.

.

.

Kamis, 22 Juni 2017

Doa dan Pesan Saya Buat Andi Cakka (Bagian Pertama)

Rahmat K. Foxchy (kiri) bersama Andi Cakka

Menuju Pilkada Sulsel 2018 

Oleh : Rahmat K. Foxchy

MAJU terus Opu Wara menuju Sulsel 2018, karena Opu sudah dilahirkan menjadi seorang politisi. Politisi sejati adalah petarung handal dalam memperebutkan elektabilitas publik.

Mengalirnya dukungan perseorang khususnya dari masyarakat Luwu Raya dan masyarakat Sulsel pada umumnya, membuktikan adanya basis pemilih riil.

“Dau magiang Opu”, walau engkau diancam akan dicopot dari Partai Golkar. Apalagi partai berlambang beringin ini sudah melewati masa keemasannya untuk kembali mengantarkan kadernya menuju 01 Sulsel. Sebab masyarakat Sulsel tentunya lebih mayoritas tidak ingin diperintah mantan narapidana korupsi. Itu harus menjadi perjuangan dari seorang aktivis untuk mengawal demokrasi tentang #Save_Sulsel dari penguasa korup.

Warga Sulsel tentunya lebih banyak yang cerdas. Meskipun ‘Sang Ustadz’ ingin menjadi bamper atas ambisi politik bakal calon rivalitas politik Pilgub Sulsel. Namun saya pikir justru itu akan menjatuhkan reputasi dirinya sebagai salah satu tokoh Islam di semenanjung selatan Pulau Sulawesi ini.

Saya sangat menyangkan, seperti banyak orang menyayangkan. Lalu bertanya, apakah ‘Sang Ustadz’ tidak keliru memasuki perhelatan politik untuk berpaket dengan salah satu tokoh paling kontroversial di negeri ini?

Pertanyaan belum tajam sebab suhu politik Sulsel baru mulai dipanaskan. Namun akan semakin menajam seiring dengan ketatnya pertarungan politik menuju Pilkada Sulsel 2018 mendatang.

Saya berdoa moga Tuhan Yang Maha Esa, dapat melindungi era pemerintahan Sulsel pada periode berikutnya dari kepemimpinan yang berlatar belakang korup.

Saya pun berdoa agar Opu Wara senantiasa mendapat bimbingan dari Tuhan Yang Maha Esa, kiranya lolos menuju Pilkada Sulsel 2018 mendatang.

Pesan saya teruslah memainkan manuver politik berbasis kerakyatan dan sapalah selalu rakyat di mana-mana. Karena suara rakyat adalah suara Tuhan dalam perspektif pemerintahan demokrasi, dalam istilah latinnya mengatakan “Vox Populi Vox Dei”.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi perjuangan bersama Opu Wara menunju tampuk kepemimpinan Sulsel periode 2018-2023. Aamiin YRA!!!

*****
§ Profil Kepemimpinan Andi Cakka, Merupakan Prototype bagi Masa DepanPemerintahan Demokrasi

Kenapa saya meski mendoakan Andi Cakka menuju Pilkada Sulsel 2018 mendatang. Tentu alasannya sangat mendasar, walau agak terkesan primordial juga. Yah, sebab selain saya adalah orang Luwu yang berlatar belakang suku Toraja, juga karena Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat tidak pendendam tapi justru sangat berjiwa demokratis.

Sebagai aktivis, saya selama ini senantiasa mengkritisi pemerintahan Bupati Luwu dua periode ini, melalui sorotan-sorotan tajam di medai-media massa dan media sosial baik yang sifatnya berskala nasional maupun yang sifatnya berskala regional dan lokal.

Bahkan saya bersama rekan-rekan kelompok Aktivis Pembela Arus Bawah, pernah mendemonya di Kantor Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantarasn Korupsi dan Kantor Kementerian Dalam Negeri.

Tentunya pula dalam rangka memenuhi sebuah agenda reformasi untuk melaporkan kasus-kasus korupsi pada sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkup Pemkab Luwu, termasuk menyerahkan berkas-berkas laporan dimaksud di Mabes Polri.

Pada gilirannya Pemerintahan Andi Cakka, sampai digoyang dengan kasus-kasus korupsi. Hal tersebut, maka ditandai dengan terseretnya sejumlah pejabat SKPD di lingkup Pemkab Luwu ke dalam kasus hukum.

Itu lantaran para pejabat SKPD di daerah ini, pada awalnya nampak bersifat arogan dan bergaya feodalisme dalam memberikan pelayanan publik. Sementara perilaku kekuasaan seperti ini, dinilai sangat berpotensi untuk melakukan praktek-praktek korupsi.

Jadi mendasari prilaku birokrasi yang bersifat arogan seperti itu, sehingga mulailah saya mengumpulkan data dan informasi tentang kasus-kasus korupsi pada lingkup Pemkab Luwu.

Lalu, saya membawanya ke Jakarta untuk dilaporkan pada institusi penegak hukum pada tingkat pusat, sebab saya tidak percaya jika kasus ini di laporkan pada aparat penegak hukum pada tingkat provinsi, terlebih lagi jika di tingkat kabupaten.

Jadi dari sinilah saya menilai bahwa Andi Cakka adalah seorang sosok pemimpin yang sangat bersifat demokratis. Beliau sama sekali tidak menyimpan dendam sedikitpun terhadap diri saya. Beliau justru menerima saya dengan ramahnya di rumah jabatannya (Rujab Bupati Luwu- red). Tapi itu, sudah empat tahun yang lampau.

Yaa, cukup lama juga saya dengan Beliau (hanya berdua) berdialog tentang berbagai hal mengenai perspektif pemerintahannya di Luwu ke depan (hingga 2018). Bahkan Beliau, justru mendukung langkah saya sebagai aktivis. Sekaligus menyarankan agar saya terus mengawal pemerintahannya di Luwu, atas kemungkinan adanya potensi korupsi yang timbul pada setiap SKPD di daerah ini.

Andaikan pejabat negara lainnya atau kepala daerah lainnya, maka sudah dapat dipastikan akan merasa sangat paranoid dengan langkah saya dalam mengobok-obok kasus-kasus korupsi di lingkup pemerintahannya. Sekaligus, akan melakukan resistensi (perlawanan balik) hingga mungkin saja dapat menyikapinya dengan cara-cara premanisme, jika tidak dilakukan melalui praktek-praktek pengkriminalisasian hukum.

Jadi dari sisi inilah hebatnya Andi Cakka dalam memaknai sebuah amanah kekuasaan, menurut prinsip-prinsip kehidupan demokrasi pada sebuah ranah pemerintahan. Apalagi program pemberantaras korupsi, memang sudah menjadi agenda prioritas bagi pemerintahan reformasi sekarang ini.

Hal tersebut, sehingga nampaknya belum ada kepala daerah lainnya yang dapat menyamai tentang gaya kepemimpinan yang bersifat demokrasi yang melekat pada diri orang nomor satu di Luwu ini. Itu, menurut pengalaman saya menjadi aktivis LSM, selama melanglang buana ke berbagai daerah di negeri ini.

Apalagi sifat-sifat kepemimpinan Andi Cakka, tampak begitu kental menujukkan semangat kerakyatan. Maksudnya, karena sama sekali tidak menjaga jarak dengan rakyat jelata sekalipun. Maka profil kepemimpinan seperti inilah, tentunya akan menjadi prototype bagi masa depan pemerintahan demokrasi di era refomasi sekarang ini.

Olehnya, mungkin tidaklah berlebihan apabila saya ingin mengajak semua kalangan Bija To Luwu, agar terus mendukung Andi Cakka, menuju Pilkada Sulsel 2018 mendatang. Terlepas atas adanya plus – minus dalam menilai kepemimpinan Beliau selama dua periode menjadi Bupati Luwu. (Bersambung)

*) Penulis adalah Aktivis Pembela Arus Bawah

Editor : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.