.

.

.

Senin, 28 Agustus 2017

Kanselir Jerman Kembali Menepis Kritik Kebijakan Satu Juta Imigran

Kanselir Jerman, Angela Merkel saat memberikan keterangannya kepada pers
JERMAN, Tabloid SAR- Kanselir Jerman, Angela Merkel kembali menepis kritik terhadap kebijakannya tentang satu juta imigran (pengungsi) yang akhir-akhir ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan.

Kritik pedas terhadap kebijakan satu juta imigran Kanselir Angela Merkel di tengah semakin memanasnya kampanye Pemilu Jerman yang akan dihelat pada bulan depan, tepatnya tanggal 24 September 2017.

Angela Merkel dalam masa-masa kampanye Pemilu Jerman akhir-akhir ini dirudung issu kontraversial, kembali membela kebijakan imigrasinya yang menuai kritik pedas dari politisi saingannya.

Seperti yang direalis surat kabar Welt am Sonntag yang dikutip Politico Europe, pada Minggu (27/8/2017), Kanselir Angela Merkel menegaskan pihaknya tidak menyesali kebijakannya yang menerima satu juta imigran pada tahun 2015 lalu.

Angela Merkel yang keempat kalinya maju bertarung memperebutkan jabatan Kanselir Jerman tersebut menuturkan bahwa kebijakan satu juta imigran pada waktu itu, harus diambil karena situasinya sangat mendesak dan luar biasa akibat krisis perang di Suriah dan Afganistan, serta Irak.

“Waktu itu kondisinya sangat mendesak dan luar biasa karena krisis perang sehingga saya memutuskan untuk mengambil keputusan itu, berdasarkan pertimbangan apa yang benar dari segi politik dan kemanusiaan,” ujar Angela Merkel.

Kendati demikian, Kanselir Jerman yang sudah 12 tahun berkuasa itu, mengakui bahwa memang pernah keadaan menjadi tidak terkontrol di wilayah perbatasan Jerman akibat keputusan itu.

Dalam kesempatan itu, Angela Merkel juga menyampaikan bahwa dia akan terus menyerukan pemerataan pembagian kuota pengungsi di Negara-negara Eropa yang menurutnya tidak adil.

“Pengungsi di Italia dan Yunani terlalu banyak karena letak geografis Negara tersebut berbatasan langsung dengan laut yang agak lebih mudah diakses para imigran yang sedang mengalami krisis perang,” jelas Kanselir berusia 63 tahun itu.

Kanselir yang sudah tiga periode berkuasa di Jerman itu, juga mengkritik sejumlah Negara Eropa seperti Hongaria dan Polandia yang menolak menerima para pengungsi.

“Negara Eropa yang menolak para imigran sangat tidak sesuai dengan spirit kita sebagai bangsa Eropa, olehnya itu kami akan mencari solusi dengan para pemimpin Negara-negara Eropa untuk menyamakan persepsi dalam menghadapi gelombang imigran, meski itu memerlukan waktu dan kesabaran,” kata Angela Merkel dengan penuh keyakinan akan sukses mengajak para pemimpin Eropa lainnya agar mau menerima para pengungsi.

Kebijakan imigrasi Angela Merkel tersebut menjadi bahan kritik pedas dari sejumlah lawan politiknya di Jerman, terutama politisi beraliran kanan-jauh dari Partai Alternatif untuk Jerman (AFD).

Tidak hanya lawan politiknya yang mengkritik kebijakan itu, karena para politisi Partai Uni Sosial Kristen (CSU) yang selama ini menjadi mitra koalisi Angela Merkel juga menyuarakan kekhawatirannya terkait kebijakan imigrasi tersebut.

Sungguh ironis karena maraknya aksi serangan terorisme di Jerman akhir-akhir ini ikut mempertajam kritik terhadap kebijakan imigrasi Angela Merkel yang dinilai terlalu liberal.

Bahkan, Angela Merkel beberapa-kali disoraki oleh warga Jerman yang marah terhadap kebijakannya ketika dia sedang berkampanye pada sejumlah tempat di Jerman.

Kendati demikian, Angela Merkel sendiri telah mencoba memperketat kebijakan imigrasinya, meski dirinya tak henti-hentinya menegaskan bahwa pintu Jerman selalu terbuka untuk para imigrasi yang perlu dan layak ditolong.

Editor : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.