.

.

.

Selasa, 08 Agustus 2017

Usut Korupsi Dana Desa Kejari Luwu Tahan Kades Komba, LSM LIP2MLR Jangan Berhenti Sampai Disitu !

Direktur LSM LIP2MLR, Yunus Renta saat memberikan keterangan pers, pada Selasa (08/08/2017) di Kantor Redaksi Tabloid SAR.

Yunus Renta : Kejaksaan Jangan Berhenti pada Kasus DD Kades Komba

LUWU, Tabloid SAR- Semenjak anggaran Dana Desa (DD) dikucurkan pihak pemerintah pusat, melalui APBN sejak tahun anggaran (TA) 2015. Maka sejak itu, penyalah gunaan DD menjadi perhatian khusus aparat penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan- red) di republik ini.

Bahkan sejumlah kasus korupsi DD TA 2015 yang terjadi pada sejumlah daerah di Indonesia ini, telah diusut aparat penegak hukum. Misal, kasus yang melibatkan enam Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, yang ditangani oleh pihak kejaksaan setempat.

Demikian pula dengan pihak kepolisian, tak ketinggalan dalam melakukan pengusutan dugaan korupsi DD TA 2016, salah satunya yang melibatkan Kades Cigagede di Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar).

Tidak hanya itu, sejumlah kasus dugaan penyalahgunaan DD telah diusut aparat pengek hukum yang ditangani langsung oleh pihak Kejaksaan dan Polri di sejumlah daerah.

Fenomena itu, sekaligus membuktikan bahwa ternyata  DD telah massif dijadikan sebagai bancakan korupsi pada tingkat Pemerintah Desa di berbagai daerah di Indonesia.

Oleh karenanya, dugaan korupsi DD sedang menjadi perhatian secara nasional oleh aparat penegak hukum. Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga turun tangan mengungkap dugaan korupsi DD yang melibatkan sejumlah pejabat.

Seperti halnya, Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK terhadap Bupati Pamekasan beserta Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pamekasan dan sejumlah pihak terkait, pada Rabu (2/8/2017).

OTT yang dilakukan KPK tersebut menjadi sorotan media massa (TV, Cetak dan Online) bahkan menjadi tranding topic pada sejumlah media pekan lalu .

Sehingga kasus dugaan korupsi DD yang menyeret sejumlah pejabat pada salah satu kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur (Jatim) tersebut, akhirnya menjadi viral hingga menuai beragam persepsi dari ruang publik.

Sementara di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), terdapat pula sejumlah Kades yang diduga bermasalah pengelolaan DD-nya, sedang dalam penanganan pihak Kejari Luwu dan Polres Luwu.

Kendati demikian, baru satu kasus yang ditangani pihak Kejari Luwu, telah ditingkatkan proses hukumnya pada tahap penyidikan. Yakni kasus dugaan korupsi DD, yang membuat Kades Komba, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu, ditetapkan menjadi tersangka.

Bahkan Kades Komba, Salimuddin bin Salimang telah dijebloskan ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Palopo oleh Kejari Luwu sejak Kamis, ( 27/07/2017).

Kades Komba tersebut, langsung ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangkan karena diduga telah menyalahgunakan DD sekitar Rp 300 juta dari total anggaran DD TA 2016 sejumlah Rp 625 juta.

Langkah serius dalam pengusutan dugaan penyalahgunaan DD yang ditangani oleh pihak Kejari Luwu tersebut, mendapat apresiasi dari kalangan aktivis LSM di daerah ini, salah satunya Direktur Lembaga Independen Pemerhati dan Pemberdayaan Masyarakat Luwu Raya (LIP2MLR), Yunus Renta.

“Kita sangat mengapresiasi pihak Kejari Luwu dalam mengawali langkah pengusutan terhadap penyalahgunaan Dana Desa (DD) di Kabupaten Luwu ini, yang telah berhasil menetapkan Kades Komba sebagai tersangka dan langsung melakukan penahanan,” kata Yunus Renta.

Meski demikian, mantan Kades Pangalli di Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu yang telah mendedikasikan dirinya sebagai aktivis LSM tersebut, juga berharap agar Penyidik Kejari Luwu tidak berhenti, hanya sampai pada pengusuntan kasus dugaan korupsi Kades Komba.

“Disamping kita mengapresiasi sepak terjang Kejari Luwu kali ini, dalam pengusutan kasus dugaan korupsi Kades Komba, kita juga berharap supaya sejumlah Kades lainnya di Luwu ini yang telah dimintai keterangannya oleh Penyidik Kejari Luwu agar diproses lebih lanjut,” ujar Yunus Renta sembari mengatakan Kades lainnya harus dituntaskan proses hukumnya.

Menurut Yunus Renta, jika penyalahgunaan DD ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum (kejaksaan dan kepolisian- red), maka hampir pasti banyak Kades yang terpidana.

“Selain mengusut dugaan penyalahgunaan Dana Desa (DD) kita juga berharap supaya aparat penegak hukum mengusut dugaan korupsi Alokasi Dana Desa (ADD), karena jika anggaran tersebut diusut maka tidak sedikit pula Kades yang akan tersangkut kasus hukum,” tutur tokoh aktivis LSM Luwu Raya yang satu ini saat bertandang ke Redaksi Tabloid SAR, Selasa (8/8/2017) siang.

Lalu Wakil Ketua Forum Aliansi LSM Wija To Luwu ini menjelaskan, bahwa kita dari kalangan LSM mengharapkan agar Kejari Luwu dalam mengusut dugaan penyalahgunaan Dana Desa tidak berhenti pada kasus yang menjerat Kades Komba tersebut.

Pasalnya, kata dia, bahwa sudah tiga tahun berturut-turut Dana Desa dikucurkan pemerintah pusat, namun pembagunan infrasturktur pada sejumlah desa masih kurang nampak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Yunus Renta juga menyebutkan jika LSM yang dinahkodainya telah melakukan pemantauan pada sejumlah desa. Bahkan menurutnya dalam monitoring tersebut LSM-nya banyak menemukan penggunaan Dana Desa pada kegiatan fisik yang kelihatannya menyalahi bestek sehingga konstruksinya cepat mengalami kerusakan.

“Inikan sudah sangat jelas merugikan keuangan Negara, sehingga hal seperti ini mesti diusut secara hukum,” tandasnya.

Kasus dugaan penyalahgunaan DD yang menyeret Kades Komba, nampaknya menjadi topik pembahasan para Kades dan kalangan aktivis LSM di Kabupaten Luwu. Bahkan kalangan aktivis LSM, mendesak pihak Kejari Luwu agar transparan pula dalam menangani kasus-kasus Kades lainnya yang juga diduga menyalahgunakan DD.

Untuk diketahui bahwa Kades Komba, Salimuddin ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan pasal kesatu primair Pasal 2 ayat 1 subsidair Pasal 3 dan Kedua Pasal 9 UURI No. 31 Tahun 1999 Jo UURI No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi.

Penulis   : Ories
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.