.

.

.

Rabu, 25 Oktober 2017

Aktivis Pembela Arus Bawah Desak Pencopotan Kepala SDN No 30 Rumaju di Luwu, Ada Apa ?

Kepala SDN No.30 Rumaju, Rosdiana, S.Pd
Terkait Dugaan Pungli Pemotongan Dana BSM dan Jual Beli Buku di SDN No 30 Rumaju

LUWU, Tabloid SAR- Nampaknya modus-modus penyalahgunaan wewenang masih saja dilakukan sejumlah Kepala Sekolah (Kepsek) terhadap setiap alokasi dana pendidikan. Tidak hanya itu, Kepsek juga diduga memperjualbelikan buku yang disinyalir dibiayai dengan Dana Operasional Sekolah (BOS).

Adapun fenomena mengenai dugaan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh Kepsek seperti ini, sebagaimana yang menjadi temuan investigasi kelompok Aktivis Pembela Arus Bawah, pada salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Di mana sekolah yang dimaksud salah satunya adalah SDN No 30 Rumaju di Desa Saga, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu.

Menurut investigasi kelompok Aktivis Pembela Arus Bawah, bahwa Kepsek SDN No 30 Rumaju ini, diduga kuat melakukan pungli terhadap dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan disinyalir pula memperjualbelikan buku kepada siswanya padahal buku tersebut dibeli menggunakan dana BOS.

Hal ini, dikemukakan oleh Koordinator Aktivis Pembela Arus Bawah Kabupaten Luwu, Achmad Kusman, saat bertandang ke Kantor Redaksi Tabloid SAR, Rabu (25/10/2017).
Tampak Koordinator Aktivis Pembela Arus Bawah Kabupaten Luwu, Achmad Kusman (baju merah) saat bertandang ke Kantor Redaksi Tabloid SAR, Rabu (25/10/2017) sedang memberikan keterangan pers-nya mengenai dugaan Pungli dana BSM dan praktik jual beli buku kepada siswa SDN No 30 Rumaju di Desa Saga,  Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu.

Menurut, Achmad Kusman sejumlah orang tua murid pada SDN No 30 Rumaju tersebut, sangat mengeluhkan adanya praktek pungli yang diduga dilakukan Kepala SDN No 30 Rumaju itu, pada setiap penyaluran dana BSM kepada para penerima manfaat dengan melakukan pungli sebesar Rp 50 ribu persiswa.

Aktivis yang lebih akrab disapa Gonrong ini, menyebutkan bahwa setiap siswa kategori miskin yang memperoleh dana BSM sebesar Rp 450 ribu persemester. Namun Kepala  SDN No 30 Rumaju, Rosdiana, SPd, justru meminta kepada setiap siswa penerima manfaat dana BSM sebesar Rp 50 ribu.

“Hal demikian sudah masuk kategori penyalahgunaan wewenang yang bermodus pungli,” kata Gonrong dengan nada ketus.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa rupanya praktek-praktek seperti itu, sudah berlangsung sejak tahun 2013, semenjak Rosdiana menjadi Kepala SDN No 30 Rumaju.

“Hanya saja selama ini, para orang tua siswa tidak tahu harus mengadu kemana sejak parktek Pungli tersebut, dilakukan oleh Rosdiana lima tahun terakhir, sehingga praktik-praktik Pungli seperti itu, terus berlangsung pada setiap pencairan dana BSM selama ini,” beber Gonrong yang juga kerap disapa Gugun ini.

Tidak hanya itu, kata Gugun lagi, bahkan Kepala SDN No 30 Rumaju ini, juga diduga memperjualbelikan berbagai buku cetak kepada siswanya. Padahal buku-buku itu dibeli dengan menggunakan dana BOS oleh pihak sekolah.

“Untuk dua buah buku dijual dengan harga Rp 60 ribu kepada setiap siswa. Bukankah hal seperti itu, sudah menyalahi aturan tentang program sistem pendidikan gratis yang selama ini telah dicanangkan oleh pemerintah,” tandasnya.

Gugun juga menerangkan bahwa pihaknya akan menyikapi dugaan Pungli tersebut, bersama rekan-rekannya dari kelomok Aktivis Pembela Arus Bawah, guna mendesak pihak Pemerintah Kabupaten Luwu agar segera mencopot Kepala SDN No 30 Rumaju.

“Selain itu, kami juga akan laporkan kasus dugaan Pungli ini, kepada pihak Kepolisian (Polres Luwu- red) supaya diusut tuntas secara hukum,” terang Gugun.

Sementara Kepala SDN No 30 Rumaju, Rosdiana. SPd, saat dikonfirmasi mengakui adanya tagihan sebesar Rp 50 ribu terhadap setiap siswanya yang menerima dana BSM itu. Hal tersebut terekam dalam wawancara yang dilakukan saat dikonfirmasi melalui handpone-nya.

Adapun alasan, Rosdiana dalam melakukan dugaan Pungli terhadap penerima dana BSM di sekolah yang dinahkodainya adalah karena dirinya didesak oleh oknum tertentu di kantor dinas.

Hanya saja Kepala SDN No 30 Rumaju itu, enggan menyebut nama oknum yang dimaksud, termasuk menolak menyebutkan dinas apa tempat oknum tersebut bekerja. Namun Rosdiana menyampaikan bahwa yang mendesak dirinya sehingga melakukan paraktek dugaan Pungli tersebut adalah pengimput data pada salah satu kantor dinas di Kabupaten Luwu.

Rosdiana hanya dapat dikonfirmasi melalui nomor Handphone-nya, sebab yang bersangkutan selalu menolak untuk ditemui langsung di kantornya.

Terkait dugaan Pungli dana BSM tersebut, juga dibenarkan oleh sejumlah guru yang mengajar di SDN No 30 Rumaju, salah satunya adalah Wali Kelas VI, Rabia.

Menurut, Rabia pihaknya melakukan penaginan sebesar Rp 50 ribu terhadap setiap siswanya yang menerima dana BSM oleh karena diperintahkan Kepala SDN No 30 Rumaju.

“Saya hanya menjalankan perintah Ibu Kepsek, sehingga melakukan pungutan dana BSM pada setiap siswa,” aku Rabia yang juga konfirmasi melalui hubungan handphone.

Sejumlah orang tua siswa mengaku sangat dirugikan dan tersolimi dengan adanya permintaan pihak sekolah sebesar Rp 50 ribu terhadap anak mereka yang menerima dana BSM, pada setiap semester ketika dana BSM tersebut dicairkan.

“Kami sudah tidak tahan disalimi dan diancam oleh pihak sekolah karena selama ini, kami selalu diancam bahwa anak kami tidak bisa lagi mendapatkan BSM, kalau kami tidak setor Rp 50 ribu setiap pencairan dana BSM anak kami,” keluh para orang tua siswa saat dikonfirmasi.

Para orang tua siswa itu, merasa sangat berterima kasih kepada kelomok Aktivis Pembela Arus Bawah, atas dibongkarnya dugaan Pungli dana BSM dan praktik-praktik penjualan buku di sekolah tersebut. Mereka juga mengharapkan pencopotan terhadap Kepala SDN No 30 Rumaju.

Penulis   : Ories
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.