.

.

.

Minggu, 22 Oktober 2017

Karena Adzan, Selamatkan Ketiga Pendaki Buntu Sikolong

Tiga pendaki gunung yang sempat dinyatakan hilang, akibat tersesat di kawasan hutan rimba Buntu Sikolong, akhirnya tiba dengan sendirinya pada Senin pagi (16/10/2017) di Desa Langi' Kecamatan Bastem Kabupaten Luwu. Ketiganya foto bersama dengan salah satu anggota TNI di rumah mantan Kades Langi, untuk selanjutnya dievakuasi ke Kota Palopo.
Menyimak Misteri Alam Gaib Puncak-Puncak Bukit di Pegunungan Latimojong
LUWU, Tabloid SAR- Adapun Pengunungan Latimojong, memiliki sejumlah puncak yang menjulang di atas permukaan laut, tak terlepas pula diliputi dengan kisah-kisah legenda yang sifatnya sangat sarat bermuatan misteri di balik mistiknya ranah alam gaib.
Di mana salah satu puncaknya yang disebut Buntu (Gunung) Rante Mario, dengan ketinggian antara 3.430 – 3.500 mdpl (meter di atas permukaan laut), merupakan puncak tertinggi di Pulau Sulawesi, dan juga dikenal salah satu tujuh gunung tertinggi di Indonesia.
Pada jajaran pegunungan ini adalah juga memiliki sejumlah puncak yang menjulang tinggi kurang lebih 2.500 mdp. Seperti, antara lain Buntu Nenemori, Buntu Rante Kambola, Buntu Pasak Bombo, Buntu Latimojong, Buntu Sikolong, Buntu Bajaja dan Buntu Sinaji serta masih ada yang lainnya, Di mana puncak-puncak gunung ini berada pada ketinggian kurang lebih 2.500 mdpl.
Menurut mitologi Basse Sangtempe (Bastem), bahwa Latimojong didiskripsikan sebagai bentuk “asal leluhur” atau “asal-usul nenek moyang”kadang pula disebut dengan istilah “mula tau”atau “To Manurung”.
Sebab “lati”menurut pengertiannya adalah ‘asal’ atau ‘awal’ dengan kata lain ‘mula.’Sedangkan “mojong” menurut pengertiannya adalah ‘moyang’ atau ‘leluhur’. Adapun kosa kata ini adalah bersumber dari bahasa Toraja Kuno.
Jadi Pegunungan Latimojong dalam cerita rakyat Bastem adalah sangat diyakini sebagai asal usul nenek moyangnya dari semenjak era peradaban purba (mula tau), sehingga dikenal adanya simbol kebesaran peradaban mitos pada pegunungan ini, dalam legenda disebut dengan istilah Puang ri Timojong.
Pada setiap puncak-puncak tinggi di pegunungan ini, pun masing-masing memiliki kisah-kisah legenda terhadap eksistensi simbol peradaban alam mitos, dalam mendeskripsikan tentang rangkaian kebesaran To Manurung, menurut fase-fase zamannya.
Seperti salah satu contohnya adalah Buntu Sinaji yang puncaknya berketinggian 2.457 mdpl, pun disebut-sebut sebagai rangkaian kebesaran To Manurung terakhir bagi simbol peradaban alam mitos, sehingga disebut pula dengan istilah Puang ri Sinaji. Kadang juga disebut-sebut dengan istilah To Manurung Puang Tamboro Langi’menurut versi legenda Bastem.
Dalam mitologi Bastem, maka eksistensi kedudukan Puang Ri Sinaji ini, pun digentek Puang Ma'tanduk Bulawan Dewata Mararang Ulunna Malea Pa'barussanna Borrong Lise' matanna.
Jika diartikan menurut Bahasa Indonesia, mungkin maksudnya, bahwa Puang ri Sinaji adalah digelar pemimpin besar (puang dewata -red) bermahkotakan emas yang bertahta di atas rambut dengan kemilau merah merona seolah menyilaukan tatapan mata.
Sedangkan Buntu Sikolong yang puncaknya berketinggian 2.754 mdpl, tak terlepas pula mengendung kisah-kisah legenda terhadap eksistensi peradaban mitos mula tau yang bersifat gaib di balik misteri kegelapan mistis.
Menurut cerita rakyat, bahwa puncak-puncak pegungunan Latimojong adalah dihuni oleh mahluk halus yang disebut ‘Walli’atau semacam ‘Jin Sallang’. Di mana Buntu Pasak Bombo yang puncaknya berketinggian 3.250 mdpl, disebut-sebut sebagai tempat perkumpulan "Walli" pada waktu-waktu tertentu.
Patut dikatakan, merupakan semacam pasar bagi kehidupan mahluk halus yang menghuni puncak-puncak bukit pada jajaran Pegunungan Latimojong. Karena “Pasak” menurut pengertiannya adalah ‘Pasar’ dan “Bombo” artinya ‘mahluk halus’ atau semacam ‘arwah leluhur’ yang sudah menjelma menjadi ‘Walli’ dengan kata lain “Jin Sallang.”
Hal-hal gaib pun tak terlepas pula dialami oleh sejumlah pendaki pada puncak-puncak tinggi lainnya di Pengunungan Latimojong tersebut, menurut cerita-cerita mistik yang pernah dialaminya masing-masing.
Halnya dialami juga oleh ketiga pendaki gunung yang baru-baru ini sempat dihebohkan hilang di Buntu Sikolong, yakni Afrin Dihamri alias Indeed (anggota Mapala Politeknik Ujung Pandang/PNUP), Widi (anggota Celebes Backpacker), dan Tuye (Komunitas Pencinta Alam Sikolong) bertindak sebagai penunjuk jalan.
Ketiganya tak ketinggalan juga mengalami peristiwa gaib, lantaran mendengar suara adzan yang cukup jauh dari perkampungan. Sebab berada pada tempat ketinggian yang mesti dilalui dengan cara berjalan kaki, sepanjang hingga puluhan kilometer. Selain harus pula menginap beberapa malam, melalui sejumlah lembah dan bukit-bukit yang diselimuti dengan hutan belantara.
Mengenai adanya suara adzan di tengah hutan belantara tersebut, diceriterakan oleh ketiga pendaki Buntu Sikolong yang sempat dinyatakan hilang ini, setelah di temui di rumah mantan Kepala Desa (Kades) Langi’ Kecamatan Bastem, pada Senin (16/10-2017) pagi.
Mereka juga menceritakan mengenai penyebab ketiganya sampai tersesat. "Kami panjat tebing. Kemudian tiba-tiba langit hitam lalu kami hentikan kegiatan. Setelah itu kami jalan menuju tenda yang berada di pos dua. Namun saat di pos tiga menuju pos dua, kabut sangat tebal dan kami kehilangan arah," bebernya.
Menurut mereka, tapi ada satu hal yang membuat kami semangat untuk tetap jalan yakni adanya suara adzan. " Hal itulah yang membuat kami menjadi optimis, akhirnya kami terus berjalan, lalu menemukan kampung warga di Desa Langi’ ini,” paparnya.
Ketiga pendaki ini, selama beberapa hari dalam perjalanannya menerobos belantara raya, mengaku hanya mengkonsumsi umbi-umbian liar, jamur dan pohon pisang yang tumbuh lair di tengah hutan. “Ya, itu yang membuat kami dapat bertahan hidup,” aku mereka.
Sementara mengenai adanya suara adzan yang didengar oleh ketiga pendaki setiap memasuki waktu shalat. Patut dikatakan itu adalah semacam suara gaib, sebab masyarakat muslim di Desa Langi’ dan Bastem pada umumnya tidak pernah mengumandangkan adzan pada setiap memasuki waktu-waktu shalat.
Pasalnya, umat muslim di wilayah ini rumahnya sangat berjauhan, menjadi sulit untuk melakukan shalat berjemaah lima waktu. Lagi pula mike atau speaker masjid tidak pernah dinyalahkan, kecuali pada saat shalat Jumat.
Terlebih masjidnya berada di pinggir sungai, jadi membuat suara adzan tertutup oleh gemurunya aliran air sungai. Apalagi dikitari dengan gunung-gunug kecil, dan tentunya pula membuat suara adzan memantul kembali, sehingga tidak mungkin dapat terdengar jauh di tengah hutan belantara. Terlebih lagi dapat didengar pada ketinggian, hingga pada jarak ribuan meter di atas permukaan laut.
Jadi mengenai adanya suara adzan yang didengar oleh ketiga pendaki gunung tersebut. Menurut tetua adat di Desa Langi’ ini, boleh jadi itu adalah para “Walli” yang akan menunaikan ibadah pada setiap waktu-waktu shalat.
Sedangkan istilah “Walli” menurut cerita rakyat di desa ini. diyakini adalah semacam mahluk halus yang juga disebut “Jin Sallang” dengan kata lain “Jin Islam”. Namun tak sedikit pula yang meyakini mengenai adanya istilah “Walli” sebagai bentuk penjelmaan dari roh-roh leluhur nenek moyang yang dikultuskan sebagai dewata, menurut perspektif mitologi Bastem.
Untuk diketahui, bahwa ketiga pendaki ini memulai pendakian pada Jumat (06/10-2017) sore dengan tujuan Buntu Sikolong di perbatasan Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Luwu. Mereka berencana kembali ke posko Mabu di Desa Uluwai dua hari berikutnya, Minggu (08/10-2017) tapi ketiganya belum kembali.
Namun hingga Rabu (11/10-2017) malam, ketiganya belum juga kembali. Sambil menunggu informasi lebih lanjut, sehingga dinyatakan hilang, pada Sabtu (14/10-2017).
Akhirnya Ketua Pengurus Harian Mapala Politeknik Ujung Pandang, Candra Nur, mengambil inisiatif untuk melaporkan peristiwa ini kepada ke Basarnas Makassar.

Kemudian pada Senin (16/10-2017) pagi, ketiganya muncul dengan sendiri di Desa Langi’. Lalu diantar oleh warga ke rumah mantan Kades setempat. Jadi ketiga pendaki gunung sempat dinyatakan hilang ini, sama sekali tidak ditemukan oleh aparat darimana pun, sebab mereka datang sendiri di Desa Langi’. 

(Tim Lipsus)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.