.

.

.

Jumat, 29 Maret 2019

Puluhan WNI Masih Berada di Kamp Pengungsian Eks Milisi ISIS di Suriah

Sejumlah milisi kelompok ISIS memegang senjata api jenis pistol di sebuah wilayah Suriah yang dikuasai ISIS. [Foto : Int]

SURIAH, Tabloid SAR – Puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) ditemukan berbaur diantara ribuan eks milisi kelompok Islamic in Iraq Syria ISIS berkebangsaan asing di kamp pengungsian yang berada di Al-Hol, Suriah Timur.

Mereka yang mengaku WNI tersebut, banyak diantaranya adalah kaum perempuan bersama anak-anaknya yang masih berusia dini.

WNI di kamp pengungsian itu, mengaku ingin kembali ke Indonesia yang merupakan negara asal mereka, setelah ISIS berhasil dikalahkan oleh Pasukan Demokratis Suriah atau SDF dalam sejumlah rentetan pertempuran selama lima tahun terakhir.

Keinginan para WNI yang ingin kembali ke Indonesia tersebut, menyusul setelah Kota Baghuz yang merupakan basis pertahanan terakhir para milisi ISIS, berhasil direbut oleh SDF pimpinan suku Kurdi.

Terkait hal tersebut, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI), melalui juru bicaranya angkat bicara.

Menurut, Juru Bicara (Jubir) Kemenlu RI, Armanatha Nasir, terlebih dahulu Kemenlu harus memastikan dan memverikasi orang-orang yang mengaku sebagai WNI dan ingin pulang ke Indonesia.

“WNI yang menyebut pernah bergabung dengan ISIS di Suriah dan menyatakan ingin pulang ke Indonesia itu, terlebih dahulu harus diverifikasi. Karena untuk memulangkan WNI yang pernah bergabung dengan milisi ISIS di Suriah, butuh proses panjang dan memakan waktu lama,” kata Armanatha dalam jumpa persnya di Jakarta, Kamis (28/03/2019).

Ia menuturkan bahwa hal itu, seperti pengalaman Kemenlu, ketika memproses pemulangan kembali 17 WNI dari Suriah pada tahun 2017 lalu.

“Proses verifikasinya membutuhkan waktu panjang dan cukup lama,” tutur Armanatha.

Selain itu, kata Armanatha yang paling penting untuk diverifikasi pada tahap awal adalah apakah mereka benar-benar WNI.

“Setelah itu, ada tahap selanjutnya, yakni melihat situasi dan keadaan mereka, terkait kondisi psikologisnya, radikalisme mereka dan sebagainya. Hal itu harus terus kita kawal, sampai nanti ada keputusan, bagaimana cara kita bisa membantu mereka,” jelasnya.

Kendati demikian, Kemenlu belum bisa memastikan kapan tahap-tahap tersebut bisa dilakukan.
“Yang pasti dalam urusan ini, kita akan melibatkan pihak Imigrasi, kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), hingga keluarga mereka di Indonesia,” terang Armanatha.

Lebih lanjut, Jubir Kemenlu tersebut mengungkapkan bahwa, sebagian besar WNI yang pergi ke Suriah, tidak memiliki dokumen yang sah.

“Sementara kita tidak bisa bilang kalau mereka tidak punya dokumen yang sah, adalah warga dari negara tertentu,” ungkap Armanatha.

Meski demikian, Kemenlu akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, karena ada sejumlah faktor yang menurutnya menyulitkan pemerintah Indonesia untuk mengkroschek dan melakukan verifikasi terhadap orang-orang yang diduga WNI di Suriah. Sebab kondisi Suriah yang hancur lebur.

“Akses ke mereka pun sangat sulit, karena mereka tidak berada di Kota Damaskus. Kalau WNI yang ada di Damaskus, sedikit agak lebih gampang untuk diakses,” ucap Armanatha.

Jubir Kemenlu ini menegaskan bahwa, secara umum pendataan jumlah WNI di Suriah sangat sulit dilakukan, karena semua yang berangkat ke Suriah dan bergabung dengan milisi ISIS, tidak melapor secara resmi kepada pemerintah Indonesia.

“Sehingga kalau saya ditanya berapa jumlah WNI di Suriah yang tidak melapor diri, yaa jawabnya tentu tidak tahu, karena memang kalau mereka tidak melapor diri maka Kemenlu tidak punya data mereka,” tegasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya BBC News Indonesia telah berbicara dengan seorang wartawan lepas di Suriah, Afshin Ismaeli.

Afshin mengaku telah bertemu dengan sejumlah WNI di kamp pengungsian di Al-Hol, Suriah Timur.

Salah satunya adalah seorang wanita yang mengaku bernama Maryam, ia mengaku berasal dari Bandung Jawa Barat dan menyatakan ingin pulang ke Indonesia.

“Saya dengan keempat anak saya telah berhasil keluar dari Kota Baghuz. Kami ingin pulang ke negara asal kami, Indonesia,” kata Maryam dalam rekaman video yang dibuat Afshin.

Diketahui pula, Kota Baghuz adalah kantong pertahanan terakhir kelompok ISIS yang berhasil direbut oleh Pasukan Demokratis Suriah atau SDF pimpinan suku Kurdi.

Afshin menerangkan bahwa, kondisi di kamp pengungsian Al-Hol, Suriah Timur itu sangat buruk dan memprihatinkan.
“Tidak cukup untuk menampung ribuan orang, tidak ada bantuan. Ada yang membagi makanan tapi tak cukup untuk semua. Sejumlah pengungsi di tempat itu, telah bertahun-tahun berada di sana,” terangnya.

Editor : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.