.

.

.

Kamis, 18 April 2019

Capres Jokowi vs Prabowo Saling Klaim Menang, Arief Budiman Minta Semua Pihak Tunggu Hasil Perhitungan Resmi KPU

Paslon Capres Jokowi - Ma'ruf vs Prabowo - Sandi, saling klaim menang berdasarkan hasil perhitungan cepat lembaga survei, Arief Budiman minta semua pihak tunggu hasil perhitungan resmi KPU pada 22 Mei 2019 mendatang. [Gambar : Int] 

JAKARTA, Tabloid SAR – Sejumlah lembaga survei melakukan proses perhitungan cepat untuk mengetahui hasil Pemilu 2019 di Indonesia, Rabu, (17/04/2019).

Secara umum ada dua metode perhitungan cepat yang digunakan oleh lembaga survei untuk mengetahui hasil pemilu tersebut, khususnya hasil Pilpres di Indonesia, yakni dengan metode exit poll dan quick count.

Kendati secara metodelogis menerapkan teknik perhitungan berbeda, namun keduanya memiliki sisi keunggulan dan kelemahan yang berbeda.

Meski demikian, sistem perhitungan cepat yang banyak diminati dan diterapkan lembaga survei di Indonesia, lebih banyak menggunakan metode quick count.

Beda halnya dengan KPU selaku lembaga resmi penyelenggara pemilu di Indonesia yang menggunakan metode real count. Yakni dengan metode perhitungan secara menyeluruh yang mengambil sampel hasil pemilu pada seluruh TPS.
  
Di Indonesia ada enam lembaga survei terpercaya yang melakukan perhitungan cepat dalam pemilu kali ini, semua menunjukkan hasil yang nyaris sama dan tak jauh berbeda.

Keenam lembaga survei terpercaya tersebut, yakni CSIS & Cyrus, Indo Barometer, Charta Politika, LSI Denny JA, Poltracking, dan Litbang Kompas.

Semuanya telah menunjukkan hasil perhitungan yang sudah hampir final, karena suara masuk sudah diatas angka 99 persen dan sudah mendekati 100 persen.

Menurut hasil perhitungan cepat keenam lembaga survei tersebut, paslon Jokowi – Ma’ruf, ungguli paslon Prabowo – Sandi dengan kisaran selisih suara 10-11 persen.

Berikut hasil quick count dari enam lembaga survei yang melakukan perhitungan cepat hasil Pilpres 2019 :

CSIS & Cyrus (99,99%) Jokowi – Ma’ruf : 55,70% vs Prabowo – Sandi : 44,30%

Indo Barometer (99,67%) Jokowi – Ma’ruf : 54,32% vs Prabowo – Sandi : 45,68%

Charta Politika (98,60%) Jokowi – Ma’ruf : 54,32% vs Prabowo – Sandi : 45,68%

LSI Denny JA (99,50%) Jokowi – Ma’ruf : 55,77% vs Prabowo – Sandi : 44,23%

Poltracking (99,30%) Jokowi – Ma’ruf 54,87% vs Prabowo – Sandi : 45,16%

Litbang Kompas (97%) Jokowi – Ma’ruf : 54,52% vs Prabowo – Sandi : 45,48%

Menariknya, kedua paslon capres telah menanggapi hasil quick count yang dilakukan sejumlah lembaga survei di Indonesia, baik paslon Jokowi – Ma’ruf maupun paslon Prabowo – Sandi.  

Capres nomor urut 01 Jokowi, meminta pendukungnya agar tetap bersabar dan tak larut dalam euforia kemenangan berdasarkan hasil perhitungan cepat yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei.

“Dari indikasi exit poll dan quick count, tadi sudah kita lihat semuanya. Tapi, kita harus tetap bersabar, harus bersabar menunggu perhitungan real count dari KPU secara resmi,” kata Jokowi saat menggelar konferensi pers di Djakarta, Jakpus, Rabu (17/04/2019) sore.

Sementara di sisi lain, capres nomor urut 02 Prabowo, juga masih meyakini kemenangannya berdasarkan hasil perhitungan cepat. Namun, Prabowo juga tetap meminta pendukungnya agar tidak terprovokasi, apa pun yang terjadi.

“Hasil exit poll kita pada 5.000 TPS menunjukkan kita menang 55,4 persen, dan hasil quick count kita juga menang 52,2 persen,” ujar Prabowo di Kertanegara, Jakarta, Rabu (17/04/2019) sore.

Menanggapi klaim para capres yang sama-sama meyakini lebih unggul dan berhasil  memenangkan pilpres 2019 berdasarkan hasil perhitungan cepat, Ketua KPU, Arief Budiman menjelaskan bahwa, hasil perhitungan cepat dalam pemilu hanya boleh dijadikan sebagai sebuah referensi.

“Karena KPU baru akan mengumumkan secara resmi hasil perhitungan suara yang sah pada 22 Mei 2019 mendatang. Sehingga jika ada quick count maupun exit poll, jadikan itu sebuah referensi. Jadikan itu sebagai sebuah informasi. Karena KPU menghitung suara sah hasil pemilu dengan metode real count,” jelas Arief di Jakarta, Rabu (17/04/2019).

Selain itu, Arief juga menegaskan bahwa, apa-pun hasil penghitungan suara pemilu 2019 yang ditetapkan oleh KPU nantinya, semua masyarakat harus mempercayai-nya. Karena hanya KPU lembaga resmi yang ditunjuk oleh negara sebagai penyelenggara pemilu di Indonesia.

“Jadi semua harus tunduk dan wajib menerima hasil perhitungan resmi KPU. Jika seandainya ada bukti yang cukup, bahwa hasil itu tidak sesuai dengan apa yang anda lihat atau yang anda yakini, ruang untuk mengajukan sengketa itu sudah disediakan oleh negara, yakni melalui MK,” tegasnya.

Editor : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.