.

.

.

Selasa, 23 April 2019

Pemkab Torut Gelar Upacara Peringatan “Hari Kartini”, Peserta Perempuan Pakai Busana Kebaya dan Tenunan Khas Toraja

Bupati Torut, Kalatiku Paembonan menyampaikan amanatnya dalam upacara peringatan Hari Kartini di halaman kantornya, Senin (22/04/2019) pagi. Tampak dibelakang Bupati Kalatiku, sejumlah peserta upacara memakai busana kebaya khas Jawa dan pakaian tenun khas Toraja. [Foto : Int]  

TORAJA, Tabloid SAR – Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 tentang Penetapan Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau R.A.Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, yang diterbitkan Presiden RI, Ir. Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964.

Dan berdasarkan penetapan Presiden Soekarno yang menetapkan hari lahir, R.A. Kartini, pada tanggal 21 April, untuk diperingati sebagai ‘Hari Kartini’, maka Pemerintah Kabupaten Toraja Utara (Pemkab Torut) menggelar upacara peringatan Hari Kartini dengan mengibarkan bendera merah putih di halaman Kantor Bupati Torut, Senin (22/04/2019) pagi.

Upacara tersebut, selain dihadiri oleh para pegawai lingkup Pemkab Torut, juga dihadiri oleh para Pimpinan dan Anggota Dharma Wanita, serta Tim Penggerak PKK Kabupaten Torut, dan para tokoh perempuan setempat. Hadir pula para Kepala OPD lingkup Pemkab Torut, para unsur Forkopimda Toraja dan para tokoh agama.

Menariknya, dalam upacara peringatan Hari Kartini tersebut, para peserta perempuan kompak memakai busana kebaya khas Jawa dan pakaian tenunan khas Toraja.

Bupati Torut, Kalatiku Paembonan dalam upacara peringatan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia tersebut, menjadi pembina upacara.

Dalam kesempatan ini, Bupati Kalatiku mengisahkan bahwa, setelah, R.A. Kartini, wafat pada usia 24 tahun tepatnya pada tanggal 17 September 1904 di Rembang, Jawa Tengah (Jateng), pada masa penerapan politik etis oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

“Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, J.H. Abendanon, mulai mengumpulkan sejumlah surat-surat yang pernah ditulis oleh R.A Kartini. Surat-surat itu adalah korespondensi atau surat-menyurat, Kartini dengan teman-temannya yang berada di Eropa pada masa hidupnya,” kata Kalatiku.

Menurut, Kalatiku, surat-surat itulah yang kemudian disusun menjadi sebuah buku yang awalnya berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’ yang kemudian diterjemahkan dengan judul ‘Dari Kegelapan Menuju Cahaya atau Habis Gelap Terbitlah Terang’  yang diterbitkan oleh J.H. Abendanon pada tahun 1911.

“Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu, sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu,”  ujar Kalatiku mengutip salah satu penggalan isi surat R.A.Kartini yang dirangkum J.H.Abendanon dalam buku berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.

Orang nomor satu di daerah berjuluk Bumi Pong Tiku tersebut, menegaskan bahwa, R.A. Kartini adalah tokoh pejuang dan pelopor kebangkitan kaum perempuan di Indonesia pada era pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

“R.A. Kartini menjadi sumber inspirasi bagi kaum perempuan Indonesia dalam memperjuangkan emansipasi, meningkatkan martabat dan harkat perempuan, serta turut serta mendorong perempuan untuk mengambil peran penting dalam pembangunan keluarga, masyarakat dan negara,” tegas Kalatiku.

“Sehingga, berkat jasa – jasanya itu, pemerintah melalui Kepres No.108 Tahun 1964 menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahirnya untuk diperingati secara nasional sebagai Hari Kartini pada setiap tanggal 21 April,” kuncinya.

Untuk diketahui, R.A Kartini adalah anak dari pasangan suami-istri, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan M.A. Ngasirah.

R.A. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kota Jepara, Jateng, tempat ayahnya menjabat sebagai seorang bupati. Ia bernama lengkap, Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat.

Ketika mulai beranjak dewasa pada usia 24 tahun, R.A. Kartini dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang, Jateng yang telah memiliki tiga orang istri.

Dari pernikahan R.A Kartini dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, dikarunia seorang anak bernama, Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904.

Setelah berhasil melahirkan anaknya yang pertama, hanya selang beberapa, R.A Kartini wafat pada tanggal 17 September 1904. Beliau dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang, Jateng.

Editor : William Marthom


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.