.

.

.

Kamis, 09 Mei 2019

Berbincang-Bincang Santai dengan Politisi Partai Hanura, Ansar Pandaka

Rahmat K. Foxchy (Ories)

Bupati Basmin Itu Bukanlah Tipe Pemimpin yang Memiliki Sifat Sentimentil

Oleh : Rahmat Foxchy

Pada suatu kesempatan Ketua Partai Hanura Kabupaten Luwu, Ansar Pandaka mengaku sangat legowo menerima hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 ini. Padahal selaku petahana, namun dirinya tidak lagi terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Luwu pada masa periode 2019-2024 mendatang.

Hal tersebut dikemukakan oleh salah satu Caleg DPRD Kabupaten Luwu ini, saat berbincang santai pada hari Minggu (05/05/2019) di rumahnya, tepatnya di Kandoa Desa Puty, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Anggota DPRD Kabupaten Luwu yang satu ini, tampak di wajahnya sama sekali tidak memiliki beban atas kegagalan dirinya untuk kembali terpilih menjadi anggota legislatif pada Pileg 2019 ini.

Menyikapi atas kegagalannya tersebut, maka dengan santainya pula Caleg Partai Hanura Nomor Urut 1 Dapil IV Luwu berkata, bahwa itulah namanya kekalahan dalam sebuah pesta demokrasi, maka harus pula dihadapi dengan jiwa besar.

Menurutnya, jadi saya hanya berharap pada Caleg DPRD Kabupaten Luwu yang terpilih, agar benar-benar membawa amanah rakyat.

“Sekaligus dapat mendukung program kerja pemerintahan Bupati H Basmin Mattayang dan Wakil Bupati Syukur Bijak, di tengah mengakselerasi pelaksanaan program pembangunan, demi mensejahterakan kehidupan rakyat Luwu untuk lima tahun ke depan,” tutur Ansar Pandaka.

Lalu mantan Sekda Luwu itu kembali mengenang gaya kepemimpinan Bupati H Basmin Mattayang, saat berpaket dengan Wakil Bupati Bahrum Daido, ketila memimpin Luwu pada periode 2004-2009.

“Bahwa Beliau (Bupati Basmin Mattayang –red) itu, bukanlah tipe pemimpin yang memiliki sifat sentimentil, terlebih namanya menyimpan demdam politik pada bawahannya hanya karena perbedaan dukungan dalam sebuah pesta demokrasi,” ungkapnya.
Ketua Partai Hanura Kabupaten Luwu, Ansar Pandaka/ Anggota DPRD Luwu periode 2009-2014
Saat itu, tutur Ansar Pandaka lagi, saya masih berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil –red) dan sudah menduduki jabatan eselon II. Kala itu, maka hampir semua pejabat dan sejumlah tokoh Luwu menyebut-nyebut, bahwa saya lah pejabat pertama di tingkat eselon II yang bakal copot oleh Pak Bupati H Basmin Mattayang.

Lanjut ia mengemukakan, soalnya,waktu itu saya dianggap salah satu penantang keras atas terpilihnya Pak Basmin, ketika melawan Pak Kamrul Kasim selaku bupati incumbent (petahana –red) pada pemilihan bupati masih melalui DPRD pada tahun 2004 lampau.

”Tapi pada kenyataannya, namun sayalah pejabat pertama yang dipanggil Beliau saat baru dilantik jadi Bupati Luwu, untuk mendikusikan atas adanya isu-isu keterbelahan pejabat terkait suksesi pemilihan bupati pada waktu itu,” kenangnya.

Setelah itu, kata Ansar Pandaka lagi, lalu saya disuruh untuk mengumpulkan para pejabat di lingkup Pemkab Luwu tersebut, untuk melakukan kegiatan tatap muka pertama dengan Pak Bupati Basmin.

Terus terang saja, sambungnya, padahal waktu saya baru akan berangkat untuk menghadap Beliau. Saya juga sempat berpikir dengan harap-harap cemas, bahwa jangan-jangan saya memang sudah mau dicopot dari jabatan saya, seperti rumor yang berkembang pada pasca pemilihan Bupati Luwu 2004 lampau.

Akan tetapi itulah faktanya, lanjut Ansar Pandaka menjelaskan, bahwa Beliau itu adalah memang sosok pemimpin yang sama sekali sangat jauh dari unsur sentiment dan dendam politik.

“Hal seperti itu, saya alami sendiri waktu saya masih menjadi pejabat karier, sampai saya akhirnya ditunjuk menjadi Sekda di lingkup Pemkab Luwu,” bebernya.

Lebih jauh Ansar Pandaka menuturkan, itu karena Pak Basmin memiliki prinsip-prinsip management pemerintahan yang disebut dengan istilah 3T, yakni Tertib Personil, Tertib Administrasi dan Tertib Lingkungan.

Apalagi, tuturnya lagi, Pak Basmin itu memiliki jiwa pembangunan yang sangat tinggi. Sebab hampir semua bangunan perkantoran di Belopa itu adalah masih peninggalan Beliau, ketika menjadi Bupati Luwu periode 2004-2009. “Jadi Beliau sangat pantas disebut sebagai Bapak Pembangunan Luwu di era reformasi ini,” tukasnya.

Hal itulah, tuturnya politisi Partai Hanura ini, kendati hanya tiga tahun memerintah secara efektif dalam memoles Belopa menjadi Ibu Kota Kabupaten Luwu, sehingga dapat sejajar dengan ibu kota daerah lainnya sudah lama terbentuk. Padahal APBD pada saat itu baru sekitaran Rp 150 miliar pertahun. “Tidak seperti sekarang ini, APBD Luwu bahkan sudah mencapai kurang lebih Rp 1,5 triliun,” imbuhnya.

Harapan Anggota DPRD Luwu yang satu ini, agar kiranya para pejabat birokrat dan segenap jajaran ASN di lingkup Pemkab Luwu dapat menunjukkan profesionalismenya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi)-nya, terlebih dituntut untuk memberikan pelayanan publik yang prima.

Hal tersebut tentunya, tak lain untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan Basmin-Syukur yang sifatnya berbasis kinerja, demi semakin mendorong pembangunan Luwu yang lebih baik dan maju selama lima tahun ke depan.

Kendati demikian, lanjut Ansar Pandaka menyampaikan, namun salah satu penentu kemajuan pembangunan Luwu selama lima tahun ke depan adalah para Caleg DPRD Luwu yang terpilih melalui Pemilu 2019 ini.

Ansar Pandaka lanjut menjelaskan, Pak Basmin dan Pak Syukur Bijak, tentunya pula tidak bisa berbuat banyak, apabila tidak memperoleh support (dukungan –red) dari pihak legislatif dalam memajukan pembangunan di daerah ini.

“Pasalnya, DPRDitu sangat memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kebijakan politik anggaran, walau APBD Luwu saat ini sudah mencapai kisaran kurang lebih RP 1,5 triliun,” paparnya.

Sekali lagi saya sangat berharap, tambahnya, kiranya Caleg DPRD Luwu yang terpilih dapat mendukung program kerja Pak Basmin dan Pak Syukur selama lima tahun ke depan.

“Alasan saya, karena Pak Basmin saat menjadi Bupati Luwu pada periode 2004-2009, hanya mengelola APBD kurang lebih sekitar Rp 150 miliar, tapi mampu membangun untuk mengangkat Belopa, sehingga mampu sejajar dengan kemajuan ibukota kabupaten lainnya,” pungkas Ansar Pandaka.

**) Penulis adalah Aktivis LSM Pembelah Arus Bawah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.