.

.

.

Kamis, 02 Mei 2019

Terkait Dugaan Manipulasi Suara pada Sejumlah TPS di Dapil IV Luwu, Aktivis LSM Angkat Bicara

Direktur Eksekutif LSM Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K. Foxchy. [Foto : Ist]

Aktivis LSM Minta KPU Buka C1 Plano, Demi Wujudkan Semangat Transparansi Pemilu

LUWU, Tabloid SAR – Fenomena tentang praktik-praktik curang dengan cara memanipulasi data perolehan suara dalam penyelenggaraan Pemilu 2019 ini, rupanya tidak hanya melanda penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres), akan tetapi juga melanda penyelenggaraan Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg).

Adapun modus mengenai dugaan memanipulasi perolehan suara pada format C1, tidak hanya diduga terjadi pada tinggkat Panitia Pemungutan Suara (PPS). Namun juga disinyalir terjadi pada tahapan rekapitulasi perhitungan suara, baik pada tingkat Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) maupun di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).

Hal tersebut, ternyata juga dialami oleh Bastem, selaku Caleg DPRD Luwu Partai NasDem Nomor Urut 7 Dapil 4 Luwu yang meliputi wilayah Kecamatan Bupon, Ponrang Selatan, Ponrang dan Bua.

Menurut Tim Vadilasi C1 Partai NasDem Kabupaten Luwu, bahwa ditemukan sejumlah kasus yang sangat merugikan Bastem, pada sejumlah TPS, baik di Kecamatan Bua maupun di Kecamatan Bupon.

Misalnya di Kelurahan Sakti, Kecamatan Bua, sesuai data C1, Bastem memperoleh 17 suara, tapi pada perhitungan rekapitulasi tingkat PPK Bua, hanya tercatat 12 suara dengan kata lain perolehan suara Bastem dikurangi lima suara.

Masih di Kecamatan Bua, Desa Puty pada TPS 5 menurut data C1, bahwa Caleg Nasdem nomor urut 1, Drs Arbi Arsyad sama sekali tidak memperoleh suara atau suaranya bernilai nol (0), tapi dalam hasil perhitungan rekapitulasi suara pada tingkat PPK, justru tercatat satu suara.

Sedangkan di Kecamatan Bupon, tepatnya di TPS 9 Desa Buntu Batu, Bastem lagi-lagi diduga kehilangan satu suara. Padahal dalam dokumen C1 pada TPS tersebut, Bastem memperoleh 34 suara tapi dalam hasil rekapitulasi PPK hanya dicatat 33 suara.

Mengenai kasus di TPS 9 Desa Buntu Batu ini, Bastem hampir saja kehilangan 34 suara lantaran pihak PPK Bupon mengalihkan suara tersebut untuk menguntungkan Arbi Arsyad, selaku Caleg NasDem nomor urut 1.

Untung saja ada pihak saksi dari partai lain yang sempat memfoto dugaan praktik-praktik manipulasi suara yang dilakukan oleh oknum pihak PPK Kecamat Bupon. Pada gilirannya melakukan komplain, untuk mengembalikan perolehan suara Bastem tersebut, walau pihak PPK Bupon hanya mencatat 33 suara dalam hasil perhitungan rekapitulasinya.

Melihat gambaran mengenai terjadinya dugaan manipulasi suara, menurut hasil temuan Tim Validasi C1 Partai NasDem Kabupaten Luwu. Akhirnya membuat Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy angkat bicara.

Menurutnya, terkait adanya modus-modus dugaan manipulasi suara yang sifatnya merugikan salah satu Caleg dan menguntungkan Caleg lainnya, maka itu jelas merupakan suatu bentuk perbuatan tindak pidana Pemilu.

Hal tersebut, kata aktivis yang akrab disapa Bang Ories ini, bahwa sudah semestinya disikapi oleh pihak Bawaslu Kabupaten Luwu, agar diproses secara hukum melalui penyidikan Gakkumdu.

“Kasus seperti ini, sudah harus ditindak tegas secara hukum,” ujar Bang Ories saat ditemui di kantornya, Kamis (2/5/2019) sore.

Saya piker sejumlah temuan kasus-kasus seperti ini, lanjut Bang Ories, itu baru semacam puncak gunung es.

“Jadi untuk mewujudkan Pemilu yang berintegritas, terpercaya yang didasari dengan semangat transparansi, maka sebaiknya buka C1 Plano, supaya Pemilu ini dapat memberikan rasa keadilan terhadap masyarakat,” paparnya.

Jadi KPU di bawah pengawasan Bawaslu, kata Bang Ories lagi, harus pula welcome dan tidak kaku dalam menyikapi setiap dugaan kecurangan Pemilu seperti ini.

“Ya, tentu jalan keluarnya adalah dengan membuka format C1 pada setiap TPS yang dimenangkan oleh salah seorang Caleg, dengan perolehan suara yang sangat jauh selisihnya dengan Caleg lainnya,” harapnya.

Jadi yang digunakan di sini, tuturnya, adalah pendekatan logika, apa rasional seorang Caleg dapat memperoleh suara paling banyak pada sejumlah TPS tertentu, dengan selisih perolehan suara yang sangat jauh terpaut dengan Caleg lainnya.

“Saya kira PSU sampai dilaksanakan, akibat tidak rasionalnya suara perolehan Caleg tertentu, sehingga menimbulkan komplain,” ucap Bang Ories.

Lalu ia mengemukakan, mengingat pelaksanaan pleno sudah masuk pada ranah KPU Daerah, maka tidak mungkin lagi dilakukan PSU. Jadi sebaiknya KPU membuka C1 Plano, untuk memastikan bahwa apakah benar perolehan suara seorang Caleg pada setiap TPS tentu sampai jumlahnya melambung tinggi.

“Bisa saja terjadi salah pencatatan di C1 yang tidak berkesesuaian dengan pencatatan jumlah suara di dalam C1 Plano, apakah itu terjadi karena akibat human error atau memang terjadi kesengajaan pencatatan pada tingkat pelaksana teknis,” ujarnya.

Kemudian ia menambahkan, jadi saya sangat berharap pada KPU Luwu agar dapat membuka C1 Plano pada setiap TPS di Desa Barowa dan TPS lainnya bagi Caleg yang memperoleh suara terbanyak, dan sangat signifikan selisihnya dengan Caleg lainnya demi menjamin hak-hak kedaulatan rakyat dalam menggunakan hak pilihnya.

“Jadi mengenai adanya dugaan manipulasi suara yang sifatnya merugikan Caleg tertentu, kita dari aktivis LSM akan mempertimbangkannya untuk melaporkan hal seperti ini agar diproses secara hukum menurut ketentauan tindak pidana Pemilu,” pungkas Direktur Aktivis Pembela Arus Bawah tersebut.

Penulis   : Echa
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.