.

.

.

Selasa, 14 Mei 2019

Upayakan Kesejateraan Petani, Pemkab Luwu Rencana Dirikan RPU dan Bentuk Brigade Panen

Bupati Luwu, H. Basmin Mattayang (tengah) bersama rombongannya tiba di lokasi ketika hendak meninjau lahan persawahan milik warga yang terancam gagal panen di Desa Lengkong dan Desa Puty, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Selasa (14/05/2019).  

LUWU, Tabloid SAR – Pada bidang pertanian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu mengusung sebuah motto yang diyakini dapat mensejaterahkan para petani jika dilakukan secara konsisten. Motto tersebut adalah tanam, petik, olah dan jual.

Guna mewujudkan kesejateraan para petani, khususnya bagi warga yang bercocok tanam, tanaman pangan utamanya padi, Pemkab Luwu berencana untuk membangun Rice Processing Unit (RPU) atau Unit Pemrosesan Beras (penggilingan padi).

Hal ini diungkapkan oleh Bupati Luwu, H Basmin Mattayang didampingi oleh Kadis Pertanian Kabupaten Luwu, Andi Pangeran dan Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian, Rahmat Arifuddin, saat meninjau sejumlah titik lokasi persawahan yang terancam gagal panen di Desa Lengkong dan Desa Puty, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Selasa (14/05/2019).

Menurut Bupati Luwu, rencana pembangunan RPU tersebut, karena pemerintah ingin agar Kabupaten Luwu bisa mandiri pangan.

“Jika RPU didirikan di Luwu, maka kita bisa secara mandiri mengolah gabah hasil produksi petani kita, menjadi beras. Jangan lagi petani menanam padi, gabahnya dijual keluar daerah dan berasnya kita beli kembali,” kata Basmin.

Basmin menambahkan, selain rencana pembangunan RPU, Pemkab Luwu juga berencana membentuk Brigade Panen Luwu, yang nantinya dilengkapi dengan sarana dan prasarana pertanian.

“Brigade Panen itu, nantinya akan diterjunkan ke lokasi persawahan milik warga Luwu untuk membantu para petani yang siap panen. Sehingga gabah milik para petani kita, tidak rusak karena terlambat dipanen,” tambahnya.

Sementara itu, Kadis Pertanian Kabupaten Luwu, Andi Pangeran mengungkapkan, bahwa masyarakat petani banyak mengeluhkan intensitas curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini.

“Karena mesin pemanen padi atau dozer padi (combine harvester) tidak bisa turun kesawah akibat tanahnya lembek. Inilah yang menyebabkan sebagian petani kita terancam gagal panen,” ungkap Andi Pangeran.

Lebih lanjut, Andi Pangeran menerangkan bahwa, pihaknya sudah banyak menerima keluhan dari masyarakat Luwu, terkait keterlambatan masa panen yang disebabkan karena intensitas curah hujan begitu tinggi, sehingga lahan persawahan menjadi lembek atau labil.

“Sehingga tidak memungkinkan mesin pemanen padi, untuk turun ke sawah,” terangnya.

Selain itu, Andi Pangeran mengakui, pihaknya juga sudah melaporkan kepada Bupati Luwu untuk menambah mesin combine harvester (mesin pemanen padi).

“Mengingat saat ini, kita hanya memiliki 12 unit mesin pemanen padi jenis combine harvester. Sehingga kita masih kewalahan melayani lahan persawahan yang luasnya sekitar 33 ribu hektar, ketika musim panen tiba,” kuncinya.

Penulis   : Echa
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.