.

.

.

Selasa, 13 Agustus 2019

Kerukunan Keluarga Kapuangan To Tumbang ri Pawele Terbentuk, Ini Kata Rahmat

Tampak sejumlah rumpun keluarga Kapuangan To Tumbang ri Pawele, saat membahas pembentukan kerukunan keluarga di rumah kediaman pasangan, H Abdul Karim Tuana dengan Hj St. Syamsia di Kelurahan Noling, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Minggu (11/08/2019).

LUWU, Tabloid SAR - Kapuangan To Tumbang ri Pawele, merupakan salah satu tatanan adat Langi’ yang tak luput ikut mewarnai nilai-niai kearifan lokal peradaban budaya Basse Sangtempe (Bastem) pada masa lampau.

Di mana Pawele ini sendiri, merupakan sebuah bukit yang berada di Desa Langi’ Kecamatan Bastem, Kabupaten Luwu. Sekaligus merupakan sebuah komunitas adat yang disebut-sebut memiliki peran strategis dalam sejarah peradaban Bastem pada zamannya.

Tentunya terlalu panjang jika kita mencoba mengulas tentang eksistensi Kapuangan To Tumbang ri Pawele ini, menurut latar belakang sejarahnya. Namun jelasnya, setelah dihapusnya istilah ‘Pa’ Puangan’ yang dalam legendanya disebut dengan istilah ‘Songkami Pa’ Puangan’.

Sehingga pada akhirnya, tinggal tiga pemangku adat di Bastem pada zamanya yang tetap menggunakan gelar puang.

Adapun ketiga pemangku adat itu, yakni Puang To Tumbang ri Pawele ini sendiri, Puang ri Tabang dan Puang To Kasalle ri Tabuan. Sedangkan gelar pemangku adat Bastem lainnya diubah menjadi istilah parengnge’.

Dalam momentum peringatan Hari Raya Idul Adha1440 Hijriah ini, sejumlah rumpun keluarga keturunan dari Pawele ini, lalu membentuk sebuah asosiasi yang mereka sebut ‘Kerukunan Keluarga Kapuangan To Tumbang ri Pawele.’

Musyawarah pembentukan kerukunan tersebut, belangsung di rumah kediaman pasangan, H Abdul Karim Tuana dengan Hj St. Syamsia di Kelurahan Noling, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Minggu (11/08/2019).

Rahmat K Foxchy selaku inisiator mengemukakan, pembentukan kerukunan keluarga ini tak lain untuk mempererat hubungan tali silaturahim antara sesama rumpun keluarga  keturunan asal Pawele di mana pun mereka berada.

“Juga untuk mempererat ikatan hubungan emosional dari generasi kita saat ini dan selanjutnya terhadap tanah leluhurnya di Pawele,” kata Rahmat.

Apalagi, kata Rahmat, kita juga memiliki warisan tanah dalam bentuk hak ulayat yang cukup luas di Bastem. Nantinya tanah ulayat itu, akan kita buatkan program pengelolaannya untuk mendorong upaya pemberdayaan ekonomi rumpun keluarga kita dari Pawele.

“Hal itu, tak terlepas untuk menjemput program kebijakan Bupati Luwu, Bapak H Basmin Mattayang yang akan menata wilayah Bastem kedepannya, supaya menjadi sebuah kawasan agro wisata,” kata tokoh aktivis LSM pemerhati kebijakan publik yang satu ini.

Lebih lanjut, Rahmat mengungkapkan, kita harus mampu melihat peluang yang ada, agar Bukit Pawele nantinya dapat pula masuk ke dalam penataan program agro wisata di Kabupaten Luwu.

“Apalagi bukit itu, menyajikan pemandangan alam yang indah dan lokasinya sangat strategis, sebab cukup dekat dengan jalan raya,” ungkap aktivis yang akrab disapa Bang Ories tersebut.

Bang Ories menuturkan pula, pembentukan Kerukunan Keluarga Kapuangan To Tumbang ri Pawele ini, baru tahap musyawarah keluarga.

“Alhamdulillah, semua keluarga yang hadir sepakat. Selanjutnya akan dibentuk kepengurusannya, sekaligus dilegalkan dalam bentuk badan hukum,” tuturnya.

Menurutnya, kedepan mereka akan menetapkan iuran tetap setiap bulannya dari para anggota kerukunan itu, mengenai jumlah iuran tetapnya akan dimusyawarakan terlebih dahulu.

“Termasuk sumbangan sukarela menurut kesediaan masing-masing anggota. Dana itu akan disetor melalui rekening bendahara pengurus,” tukasnya.

Bang Ories menekankan, bagaimana kita bisa mengelola potensi lahan yang cukup luas dalam bentuk hak ulayat itu, agar ke depannya dapat memberikan manfaat secara ekonomis bagi rumpun keluarga Pawele itu sendiri.

“Jadi kita nanti akan merancang sejumlah program kerja yang bersifat produktif, sesuai potensi alam yang dimiliki pada lahan tanah warisan tersebut. Yang tentunya, harus pula selaras dengan program agrowisata, sebagaimana langkah kebijakan Pak Bupati Luwu nantinya,” sebutnya.

Dikatakan pula, mengingat rumpun keluarga Pawele tersebar pada sejumlah daerah di Indonesia, bahkan tidak sedikit yang merantau keluar negeri dan sebagian telah menjadi warga negara asing.

“Sehingga untuk mensosialisasikan program kerja ini pada seluruh rumpun keluarga, maka kita akan membuat group WhatsApp khusus keturunan Pawele. Group WhatsApp itu, akan kita jadikan sebagai salah satu sarana komunikasi bagi setiap anggota rumpun keluarga Pawele,” tandas Bang Ories.

Editor : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.